Trias Energi : Komparasi Gas Alam, Batu Bara, & Minyak

Lanskap energi global pada tahun 2024 dan 2025 sedang mengalami transformasi intens di mana kebutuhan akan keamanan energi dan pertumbuhan ekonomi berbenturan dengan urgensi dekarbonisasi. Permintaan energi dunia tumbuh sebesar 2,2% pada tahun 2024, dipicu oleh lonjakan kebutuhan listrik sebesar 4,3% akibat percepatan elektrifikasi, digitalisasi, dan suhu ekstrem. Di tengah dinamika ini, peran gas alam, batu bara, dan minyak bumi tetap dominan namun memiliki lintasan risiko yang sangat berbeda.

Batu Bara

Batu Bara: Pilar Tradisional dalam Tekanan
Batu bara tetap menjadi pilar utama pembangkitan listrik terutama di pasar berkembang seperti Tiongkok dan India, meskipun pertumbuhannya melambat menjadi 1% pada tahun 2024. Tiongkok sendiri mengonsumsi rekor 58% dari total batu bara global. Secara fisik, batu bara adalah batuan sedimen yang terbentuk dari sisa tumbuhan purba selama jutaan tahun melalui proses dekomposisi di bawah tekanan dan panas tinggi. Kualitasnya bervariasi dari lignit yang memiliki karbon terendah hingga antrasit dengan kandungan karbon tertinggi mencapai lebih dari 93%.

Meskipun melimpah, batu bara adalah sumber energi paling berbahaya bagi kesehatan manusia, menyebabkan sekitar 24,6 kematian prematur per terawatt-hour (TWh) akibat polusi udara dan kecelakaan tambang. Emisi partikulat (PM2.5), sulfur dioksida (SO2), dan nitrogen oksida (NOx) dari pembakaran batu bara dikaitkan dengan penyakit kardiovaskular dan asma kronis. Selain itu, infrastruktur batu bara kini menghadapi risiko tinggi menjadi aset terdampar (stranded assets) seiring pengetatan regulasi emisi dan komitmen internasional untuk menghentikan pendanaan fosil.

Minyak

Minyak Bumi: Transisi Menuju Sektor Spesialis
Pangsa minyak bumi dalam total permintaan energi global jatuh di bawah 30% untuk pertama kalinya dalam sejarah pada tahun 2024. Penggunaan minyak untuk pembangkitan listrik skala besar kini jarang ditemukan di ekonomi maju karena biayanya yang tidak kompetitif, dengan LCOE (Levelized Cost of Energy) sering kali melebihi $150/MWh. Saat ini, permintaan minyak lebih banyak didorong oleh sektor penerbangan, petrokimia, dan penggunaan sebagai cadangan darurat atau di wilayah terpencil.

Gas Alam

Gas Alam: “Jembatan” yang Efisien namun Menantang
Gas alam menunjukkan pertumbuhan terkuat di antara bahan bakar fosil, meningkat sebesar 2,7% pada tahun 2024. Gas ini dianggap sebagai bahan bakar transisi karena profil emisinya yang lebih bersih, menghasilkan sekitar 50-60% lebih sedikit CO2 dibandingkan batu bara untuk jumlah energi yang sama pada titik pembakaran. Teknologi Combined Cycle Gas Turbine (CCGT) atau PLTGU bahkan dapat mencapai efisiensi termal melebihi 60%, jauh di atas rata-rata PLTU batu bara yang hanya sekitar 33-34%.

Keunggulan utama gas alam terletak pada fleksibilitasnya:
• Kecepatan Ramping: Unit mesin pembakaran internal (ICE) berbasis gas dapat mencapai beban penuh dari kondisi dingin dalam kurang dari 5 menit, sangat krusial untuk menyeimbangkan energi terbarukan yang intermiten.
• Reliabilitas Jaringan: Gas mampu menaikkan atau menurunkan output dengan sangat cepat untuk menjaga stabilitas tegangan.
Namun, gas alam menghadapi “paradoks metana”. Metana (CH4), komponen utama gas alam, adalah gas rumah kaca yang 80-84 kali lebih kuat daripada CO2 dalam jangka waktu 20 tahun. Analisis terbaru menunjukkan bahwa jika kebocoran metana di sepanjang rantai pasok melebihi 3%, manfaat iklim gas alam dibandingkan batu bara bisa hilang sepenuhnya.

Realitas Ekonomi 2025: Renewables Melampaui Fosil
Analisis biaya terbaru menunjukkan bahwa energi terbarukan kini sering kali lebih murah daripada membangun pembangkit fosil baru. LCOE untuk angin darat berkisar antara 27−53/MWh dan surya PV antara 29−92/MWh, sementara biaya membangun unit gas CCGT baru mencapai rekor tertinggi dalam 10 tahun terakhir akibat kekurangan pasokan turbin dan kenaikan biaya konstruksi. Meskipun biaya modal terbarukan tinggi di awal, mereka tidak memiliki biaya bahan bakar selama masa pakainya.

Geopolitika dan Keamanan Jalur Distribusi
Keamanan energi dunia sangat bergantung pada jalur laut sempit yang dikenal sebagai chokepoints. Sekitar seperlima dari pasokan minyak dunia dan hampir semua ekspor LNG Qatar melewati Selat Hormuz, menjadikannya senjata geopolitik yang ampuh dalam konflik. Gangguan di titik ini dapat memicu lonjakan harga minyak global sebesar 15−25 per barel secara instan. Di sisi lain, serangan di Laut Merah telah memaksa banyak perusahaan pelayaran menghindari Terusan Suez dan memutar lewat Tanjung Harapan, yang menambah waktu pengiriman 10-15 hari dan meningkatkan biaya transportasi sebesar 30-40%.

Masa Depan Bahan Bakar Pelayaran
Industri maritim, yang bertanggung jawab atas 90% perdagangan global, juga sedang beralih dari bahan bakar minyak berat (HFO/VLSFO). Alternatif yang sedang dikembangkan meliputi:
• LNG: Paling cost-effective saat ini dengan infrastruktur yang matang.
• Methanol & Ammonia: Menawarkan emisi lebih rendah namun memiliki densitas energi lebih rendah dan biaya lebih tinggi.
• Hidrogen: Dianggap sebagai bahan bakar nol-emisi utama, namun masih menghadapi tantangan besar dalam biaya produksi dan penyimpanan.

Kesimpulan
Strategi yang paling pragmatis saat ini adalah pendekatan bertahap: mengganti pembangkit batu bara yang tidak efisien dengan kombinasi gas alam yang fleksibel dan peningkatan masif kapasitas energi terbarukan. Keamanan energi masa depan tidak lagi terletak pada penguasaan cadangan bawah tanah semata, melainkan pada diversifikasi teknologi, efisiensi sistem, dan resiliensi logistik global.

(Sumber: diolah dan dirangkum dari berbagai artikel)

Share Post:
error: All Rights Reserved. GASRA®